Diberdayakan oleh Blogger.
alt text

Majelis Dhuha Perdana di Pangkalan Bun

Majelis Dhuha merupakan wasilah untuk memperkuat silaturahim antara para..,

Selengkapnya
alt text

Keutamaan Membaca Al Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan penuh berkah. Al-Qur’an memberikan...

Selengkapnya
alt text

Sukses Hanya Karena Ide Kecil

Ide-ide kecil tak selalu menggambarkan pendapatan kecil. Ide kecil juga bisa berarti big...

Selengkapnya
alt text

Koleksi SMS Taujih

Bila ada yang mau menambahkan, monggo untuk di share di sini, di kolom komentar...

Selengkapnya
alt text

Bidadari-Bidadari Surga yang Disegerakan

Wanita adalah sebuah maha karya Allah. Dibalik kelembutannya ada kekuatan yang dapat menggerakkan sebuah laju peradaban.

Selengkapnya
alt text

Surat - Surat Al Quran yang Disunahkan

Saudaraku sekalian..., tahukah anda tentang surat dalam Al Quran yang dianjurkan untuk sering dibaca selain kegiatan mengkhatamkan Quran setiap bulannya?

Selengkapnya
alt text

KISAH NYATA KEAJAIBAN SHOLAT

Profesi awalnya adalah sopir angkot, pada suatu ketika...

Selengkapnya
alt text

Keutamaan Puasa di Hari Asyura 10 Muharram

Rasul saw. Bersabda : "Barang siapa puasa pada hari 'Asyura (tanggal 10) Muharram,

Selengkapnya

Amalan Nabi Muhammad pada 10 malam Akhir Ramadhan

  • Kamis, 30 Mei 2019
  • by
  • ikadikobar

  • Pesan Habib Ali Ridho di akhir ramadhan 'Jangan sampai terbalik, awal Ramadhan penuh, akhir Ramadhan tinggal 1 shaf, sisanya di pasar. Seharusnya sepuluh malam terakhir ini yg kita makmurkan. Seperti di kota Tarim Hadramaut, awal Ramadhan sudah terlihat makmur. Disana ada 360 masjid. Dan sholat tarawihnya gak serentak, dimana kita lewat disitu selalu makmur. Krn ada yg tarawih mulai jam 8,10, 12, 1 malam dll.'

    Selanjutnya apa saja yg bisa kita kerjakan dgn 10 malam akhir Ramadhan ini?

    Habib Ali Rido menjelaskan, "seperti yg dilakukan Rasulullah, "adalah nabi Saw. Kalau sudah datang 10 malam akhir Ramadhan, beliau mengikat sarungnya yaitu menjauhi istri-istrinya untuk mendekat diri kepada Allah SWT.
    Kalau di malam sebelumnya terkadang nabi bangun, terkadang tidur. Tapi kalau sudah 10 malam akhir Ramadhan, beliau hidupkan sepanjang malam Ramadhan.

    Nabi tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, nabi juga mengajak keluarganya untuk ibadah kepada Allah SWT. Kalau mau masuk surga jangan sendirian, bawalah keluarga nya dan bawa teman-teman nya ke dalam surga.

    Selain itu dalam hadis lain, nabi mandi di 10 malam akhir antara isya dan magrib. Dan ini dianjurkan oleh para fuqoha, antara magrib dan isya. Sebagaimana yg dilakukan Rasulullah antara dua adzan yaitu antara adzan magrib dan adzan isya.

    Namun yg perlu diperhatikan, Krn mandinya mandi Sunnah, maka niatkan aku mandi Sunnah untuk malam ini di bulan suci ramadhan. Krn kalau hanya sekedar mandi, maka kita tidak akan mendapatkan pahala Sunnah.

    Kemudian beliau menyambung puasanya, beliau menjadikan makan malamnya sebagai makan sahurnya.

    Selanjutnya adalah Baginda Nabi Saw beri'tikaf di 10 malam akhir Ramadhan,
    Rasulullah bersabda, barang siapa beri'tikaf sekedar dua kali perasan onta maka seakan2 pahalanya memerdekakan budak.

    Apalagi I'tikaf di bulan ramadhan, Rasulullah bersabda barang siapa I'tikaf di 10 akhir Ramadhan maka dia mendapat pahala 2 kali haji, dan 2 kali pahala umrah. Krn pahalanya sgt besar.

    I'TIKAF tidak harus dalam keadaan puasa, namun boleh juga tidak puasa. Akan tetapi sekalipun tidak disyaratkan, namun dalam madzhab imam Syafi'i Sunnah hukumnya ketika I'tikaf puasa. Krn madzhab lainnya mewajibkan I'tikaf sambil puasa.
    Di dalam madzhab imam Syafi'i tidak harus seharian penuh, cukup dia berdiam dalam masjid dan melebihi kadar tuma'ninah dalam sholat.
    Read More...

    Sebab Ummat Rasulullah Dapat Lailatul Qadar

  • by
  • ikadikobar

  • Dalam peristiwa Isro mi'raj, di langit ke lima. Nabi melihat Umur ummat nabi sebelumnya ada yg umurnya 1000 tahun, 3000 thn, ada juga yg 700 th dipenuhi jihad kepada Allah ta'ala..
    Lalu rasul melaporkan  hal ini kepada Allah sehingga diterima Allah dan Allah memberikan kepada kita malam Lailatul Qadar.
    1 malamnya senilai dengan 83 thn 4 bulan.
    Read More...

    Bisakah Wanita yang haid dan nifas dapat Lailatul Qadar?

  • by
  • ikadikobar
  • kami selaku kaum hawa, bila datang haid atau sedang nifas tidak bisa dapat malam Lailatul Qadar?

    Jawab habib Ali Ridho dalam majlis Dhuha Ramadhan :

    Ibadah tidak hanya sekedar sholat, dan baca Qur'an yg dilarang karena sedang haid.
    Perempuan bisa meraih Lailatul Qadar dengan  doa kepada Allah, memperbanyak dzikir kepada Allah, sholawat kepada nabi.
    Read More...

    Kenapa Rasulullah Lebih Giat Ibadah di 10 malam Akhir Ramadhan?

  • Rabu, 29 Mei 2019
  • by
  • ikadikobar
  • Habib Ali Ridho bin Habib Husin Alqadiri, dalam Majlis Duha Ikadi Kobar beberapa waktu yang lalu menyampaikan bahwa "10 malam akhir ini mulia, Krn keseringannya malam Lailatul Qadar turun, yg mana siapa saja yg ibadah sama halnya ibadah dgn 1.000 bulan."

    Rasulullah bersabda carilah oleh kalian di sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam Lailatul Qadar.
    Imam Ibnu Hajar mengatakan kurang lebih 40 pendapat ulama mengenai kapan malam Lailatul qodar. Namun jumhur ulama berdasarkan hadis nabi yg shohih, mereka berpendapat keseringannya ada di sepuluh malam yg terakhir bukan suci ramadhan.

    Oleh karena itu, jikalau kita di malam sebelumnya tidak giat ibadah kepada Allah, jangan sampai ada waktu yg terbuang di 10 malam akhir Ramadhan dgn perbuatan sia-sia.

    Adalah nabi Saw, beliau sungguh-sungguh ibadah, meningkatkan amal ibadah. Tidak seperti kesungguhan nabi pada malam2 sebelumnya.
    Ini beliau lakukan dgn harapan beliau mendapatkan malam Lailatul Qadar.
    Read More...

    Keutamaan Belajar Memanah menurut Nabi Muhammad SAW.

  • Rabu, 03 April 2019
  • by
  • ikadikobar

  • Diambil dari Kitab Tanbihul Ghafilin, Bab 71

    Al Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir Zaid, katanya : "Pada suatu hari rekanku berlatih memanah, mencariku, katanya, "Kenapa Kau terlambat?" Jawabku, "Ada halangan, lalu ia menawarkan sebuah hadits yang bisa mendorong semangat dalam berlatih memanah, jawabku, baiklah. Katanya Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda "Dengan satu panah sekaligus 3 orang dimasukkan ke dalam surga, yaitu :
    1. Orang yang memanah (melepaskan panah);
    2. Orang yang memproduk (membuatnya) dengan ikhlas:
    3. Orang yang membantu dalam perjuangan itu.

    Nabi saw. bersabda, "Belajarlah kamu memanah dan berkendaraan, memanah lebih baik dan lebih kusenangidaripada berkendaraan. Karena setiap permainan itu batil, kecuali 3 macam, yaitu :
    1. Belajar melepaskan anak panah (memanah);
    2. Berlatih mengendararai kuda (berkendaraan);
    3. Bercanda (bergurau) dengan istri.

    Kesemua itu adalah termasuk hak (perbuatan baik) di dalam agama.










     
    Read More...

    Dunia Tidak Senilai Seteguk Air

  • by
  • ikadikobar




  •  Di dalam kitabnya, Al-Kamil fi At-Tarikh, Ibnu Atsir menceritakan percakapan Ibnu Samak dengan Harun ar-Rasyid, khalifah Bani Abbas. Suatu ketika, Harun ar-Rasyid merasa haus sekali. Untuk menghilangkan dahaga tersebut, dia memerintahkan Ibnu Samak untuk mengambilkan air minum. Setelah mengambil air minum, Ibnu Samak berkata, “Pelan-pelan. Wahai Amirul Mukminin, demi kedekatanmu dengan Rasulullah, berapakah engkau akan membayar air ini?”

    Kemudian Harun menjawab, akan membelinya dengan separuh kerajaannya. Ibnu Samak berkata, “Kalau begitu, minumlah.” Selesai meminumnya, Ibnu Samak bertanya lagi jika air ini ditahan dan tidak bisa keluar dari tubuh, berapa Harun akan membelinya? Kemudian dijawab bahwa ia akan membeli dengan semua kerajaannya.

    Di akhir pembicaraan, Ibnu Samak berkata kepada Harun ar-Rasyid, “Sesungguhnya sebuah kerajaan tidak dapat menyamai kenikmatan air minum dan keluarnya air kencing. Bahkan, ia lebih besar dari kerajaanmu.”

    Memang demikian seharusnya kita menyadari bahwa nikmat-nikmat Allah takkan pernah habis dan takkan kuasa dihitung manusia. Karena Allah tidak menghendaki kecuali agar manusia bersyukur kepada-Nya.
    ——————————————————————————————————————————————————
    “Di hari kiamat nanti, akan didatangkan orang yang hidupnya paling bahagia di dunia, lalu Allah swt berfirman, “Celupkan ia sekali celup ke dalam neraka!” Begitu selesai, Allah berfirman, “Hai anak Adam, pernahkah engkau mengecap kenikmatan? Pernahkah engkau merasa senang? Pernahkah engkau merasa bahagia?” Ia menjawab, “Sama sekali belum, demi kemuliaan-Mu!” Lalu Allah berfirman, “Masukkan kembali ia ke neraka.” Setelah itu, didatangkan orang yang hidupnya paling sengsara ketika di dunia, lalu Allah swt berfirman, “Celupkan ia sekali celup ke dalam surga.” Begitu selesai, ia dipanggil, Allah berfirman kepadanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat sesuatu yang tidak engkau sukai?” Ia menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, hamba belum pernah melihat hal yang tidak hamba sukai.” (Hadits Qudsi)
    Read More...

    Lima Perkara Menjauhkan dari Maksiat

  • Selasa, 02 April 2019
  • by
  • ikadikobar



  • Ikadikobar.org - Suatu hari, seorang lelaki pergi menemui Ibahim bin Adham, (seseorang penyembuh penyakit hati, ulama yang tidak hanya kaya akan ilmu, namun juga sangat wara' dan zuhud terhadap dunia sehingga diberi gelar, Sulthân al-Awliyâ’). Lelaki itu berkata, "Aku adalah orang yang berdosa, sebutkanlah kepadaku apa yang dapat membuatku berhenti melakukan dosa!."

    Ibrahim berkata kepadanya, "Jika engkau mampu melakukan lima perkara, maka engkau tidak akan tergolong pelaku maksiat."

    Lelaki itu bersungguh-sungguh mendengarkan nasihat Ibrahim, Ia berkata, "Sebutkanlah apa yang ingin engkau katakan wahai Ibrahim."

    Ibrahim bin Adham berkata, "Pertama, jika engkau akan melakukan perbuatan maksiat kepada Allah, maka janganlah engkau makan rezeki dari-Nya." Lelaki itu merasa heran, Ia bertanya, "Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu wahai Ibrahim, sedangkan semua rezeki itu datang dari Allah?!"

    Ibrahim berkata, "Jika engkau mengetahui itu, apakah layak bagimu memakan rezeki-Nya, kemudian engkau melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya?! Lelaki itu menjawab, "Tidak wahai Ibrahim. Sebutkanlah yang kedua!"


    Ibrahim bin Adham berkata, "Jika engkau akan melakukan perbuatan maksiat, maka janganlah engkau tinggal di negeri milik Allah." Lelaki itu lebih heran daripada keheranannya yang pertama. Ia berkata, "Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu wahai Ibrahim, sedangkan semua negeri ini milik Allah." Ibrahim bin Adham berkata, "Jika engkau mengetahui itu, apakah layak bagimu tinggal di negeri milik Allah sedangkan engkau berbuat maksiat kepadanya?!" Lelaki itu menjawab, "Tidak wahai Ibrahim, sebutkanlah yang ketiga."

    Ibrahim berkata, "Jika engkau akan melakukan perbuatan maksiat, maka carilah tempat dimana engkau tidak dilihat oleh Allah, maka lakukanlah perbuatan maksiat di tempat itu." Lelaki itu berkata, "Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu wahai Ibrahim, Dia mengetahui semua tentang semua rahasia, Dia mengetahui yang dinyatakan dan yang disembunyikan, mendengar hentakan kaki semut di atas batu hitam pekat di tengah malam yang gelap gulita,"  Ibrahim bin Adham berkata, "Jika engkau mengetahui hal itu, apakah pantas engkau melakukan maksiat kepada Allah?!." Lelaki itu menjawab, "Tidak. Wahai Ibrahim sebutkan yang keempat."

    Ibrahim bin Adham berkata, "Apabila malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, maka katakanlah kepadanya, "Tundalah hingga masa tertentu''' Lelaki itu berkata, "Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu wahai Ibrahim, sedangkan Allah telah berfirman, "Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (Al-a'raf: 34). Ibrahim bin Adham berkata kepadanya, "Jika engkau telah mengetahui hal itu, lantas bagaimana mungkin engkau masih mengharapkan keselamatan?!" Lelaki itu menjawab, "Ya, sebutkan yang kelima wahai Ibrahim."


    Ibrahim bin Adham berkata, "Jika malaikat Zabaniah (para malaikat neraka jahanam) datang kepadamu untuk memasukkanmu ke dalam neraka Jahanam, maka janganlah engkau pergi bersama mereka." Hampir saja lelaki itu tidak mendengarkan syarat yang kelima, ia berkata sambil menangis, "Cukuplah wahai Ibrahim, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya." Kemudian, lelaki itu pun rajin beribadah hingga ia meninggal dunia. 

    dikutip dari kitab Semua Ada Saatnya, karangan Syaikh Mahmud Al - Mishri, yang diterjemakan Ust. Adul Somad, Lc., MA
    Read More...
     
    Copyright (c) 2010 Blogger by Blogger
    Facebook : IKADI KOBAR, My Twitter