Diberdayakan oleh Blogger.
Posted on
  • Sabtu, 06 Oktober 2012
  • by
  • ikadikobar
  • in
  • Sukses Bersama Tetangga…

    Suatu hari seorang petani jagung membeli benih terbaik untuk ditanam di kebunnya. Tetapi tidak cukup dengan itu, dia juga membeli benih yang terbaik untuk dibagikan ke kebun-kebun tetangga. Tetangganya yang penasaran bertanya : “Mengapa engkau memberikan benih sebagus ini untuk kami ?, bukankah kami akan menjadi pesaingmu waktu panen nanti ?”.


    Tetangga yang baik tadi menjelaskan : “Ketika lebah hinggap di bunga-bunga, dia tidak milih-milih kebun yang mana yang dia hinggapi. Dia bisa hinggap di kebun kalian atau juga kebunku. Aku ingin bila dia hinggap di kebun manapun, yang terbawa olehnya adalah serbuk sari terbaik. Ini hanya bisa terjadi bila kalian juga menanam jagung dengan benih terbaik”.

    Tetangganya masih pada belum puas : “ Tetapi nanti kita akan panen jagung dengan kwalitas baik yang sama, jagungmu hanya akan sebaik jagung kami…”. Petani yang baik tadi mengerti pertanyaan tetangganya tadi, karena selama ini mereka memang bersaing untuk yang terbaik sesama mereka – lupa bahwa persaingan yang sesungguhnya terjadi jauh di luar kebun-kebun mereka.

    Dia kemudan menjelaskan : “Bila kita bersaing antara kebun-kebun kita, masing-masing kita mungkin bisa menjadi pemenang yang terbaik – tetapi ya hanya dalam wilayah kita. Kita tidak pernah bisa memenangkan persaingan dalam skala yang lebih luas, persaingan melawan dominasi produk negeri lain atau bahkan persaingan melawan lapar penduduk negeri-negeri miskin yang membutuhkan hasil panenan kita”.

    Itulah yang terjadi di lingkungan kita sehari-hari, tukang ojek bersaing dengan tukang ojek, tukang cukur bersaing dengan tukang cukur, calon gubernur-bersaing dengan calon gubernur dst. Betapa banyak waktu, tenaga, pikiran dan sumber daya terbuang untuk bersaing satu sama lain.

    Di dalam perusahaan, instansi, partai politik dlsb. orang-orang juga bersaing didalamnya memperebutkan pengaruh dan posisi dan bahkan tidak jarang mereka saling menyakiti dan mendzalimi – walhasil tidak ada yang diuntungkan dalam persaingan yang demikian.

    Sejak jaman penjajahan musuh kita mengerti betul karakter kita yang mudah dipecah pecah ini, mereka sudah memiliki poltik adu domba devide et impera sejak berabad lampau. Kita mudah dikalahkan dan dikuasai ketika kita terpecah belah.

    Dala tataran praktis untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kita lebih banyak menggunakan produk impor karena kita tidak cukup bersatu untuk menyatukan kekuatan yang kita miliki. Hampir seluruh jenis mobil yang berseliweran di jalan-jalan kita adalah mobil impor, karena ketika ada anak-anak kita yang mau memproduksinya sendiri – lebih banyak kritik dan serangan yang mematahkan semangat mereka ketimbang dorongan yang membangun.

    Setiap hari di pinggir-pinggir jalan kita disuguhi berbagai jenis buah impor, mulai dari apel, jeruk , legkeng, pir dlsb. Tidak bisa kah kita memproduksi sendiri di bumi yang subur ini ?, insyaallah bisa. Hanya diperlukan synergi sejumlah besar petani agar apapun yang kita akan produksi itu bisa mencapai skala ekonomis dari produk-produk yang berkwalitas tinggi.

    Dalam skala yang sedikit lebih besar, bisakah umat ini kembali berjaya mengungguli umat-umat lain ? Insyaallah juga bisa, bila kita bisa bersatu. Yang diperlukan adalah leadership seperti yang ditunjukkan oleh petani yang membagikan benih jagung terbaik tersebut di atas. Kita hanya akan bisa ‘memetik jagung terbaik’ bila tetangga kita juga kita beri ‘benih’ yang sama. InsyaAllah …

    0 komentar:

    Posting Komentar

     
    Copyright (c) 2010 Blogger by Blogger
    Facebook : IKADI KOBAR, My Twitter