Diberdayakan oleh Blogger.

Peran Ayah dalam Pembentukan Karakter Anak

Posted on
  • Senin, 28 September 2015
  • by
  • ikadikobar
  • in
  • Apa Mimpi Orang Tua dan Guru kepada Anak-anaknya?

    Mereka menginginkan para anak – anaknya menjadi Generasi Terbaik, tetapi sayang, menurut Ayah Irwan masih banyak generasi di Indonesia yang merupakan Generasi Terbalik.

    Mengapa?

    Generasi Terbalik mempunyai ciri-ciri :

    Kematangan biologis melebihi kematangan mental/psikologis
    Mempunyai karakter Flight bukan Fight
    Generasi terbalik banyak kita jumpai disekitar kita, mungkin kita termasuk didalamnya. Umur 23 tahun tetapi cara bertindak dan berfikirnya seperti umur 11 tahun, sering lari dari masalah daripada menghadapinya.

    Apa Penyebabnya?

    Penyebab terbesarnya adalah Kesalahan dalam Pola Pengasuhan. Zaman sekarang, banyak dari kita, yang menyerahkan pola pengasuhan anak kepada pembantu. Padahal di dalam Islam keberhasilan At-Tarbiyah wa Ar-Riayah (pendidikan & pengasuhan) ada di umur 0-15 tahun, karena itu adalah umur terbaik manusia, dan dari usia itu, yang lebih baik adalah pada usia 0-10 tahun, lebih baik dari itu adalah usia 0-5 tahun, hingga yang paling terbaik adalah pada saat usia 0-3 tahun. Sebagian besar keluarga tidak mengoptimalkan pengasuhan dan pengajaran pada anak ketika umur nol hingga tiga tahun. Padahal anak usia 0-3 tahun dapat menghapal 1500 kata-kata baru setiap harinya dengan cepat. 80% kecerdasan manusia terletak pada periode 0-3 tahun awal kehidupannya.

    Saraf-saraf otaknya sangat optimal pada tahun itu. Jaringan demi jaringan terus berkembang seiring dengan meluasnya informasi yang ia dapatkan. Bisa dibayangkan bagaimana jika pada usia 0-3 tahun, kita asuh sendiri anak kita dan kita sering lantunkan ayat-ayat Al-Quran kepadanya, sudah bisa dipastikan anak-anak kita akan menjadi hafidz dan hafidzah di usia kanak-kanaknya, karena mereka bisa menghafal 1500 kata setiap harinya. Sedangkan Al-Quran hanya terdiri dari 6236 kata saja. Itulah mengapa, ulama –ulama zaman dahulu pada usia anak-anak sudah hafal Al-Quran, seperti Imam Syafii. Tidak hanya cerdas dalam ingatan, tetapi secara mental juga mereka sudah matang sehingga muncul cendekiawan muda di zaman Nabi Muhammad SAW, yaitu Anas bin Malik, yang diumur 9 tahun sudah dapat menyelesaikan persoalan orang dewasa yang diberikan kepadanya. Usamah bin Zayd yang memutuskan untuk pergi berjihad tanpa ada paksaan dari siapapun. Mereka inilah yang seharusnya kita jadikan benchmark jika kita berkaca terhadap perkembangan anak di umur 9 tahun. Lalu, mau jadi apa anak kita nanti ketika berumur 19 tahun? Menjadi pelajar biasa ataukah bisa menjadi Al Fatih, yang pada usia 19 tahun mampu memimpin pasukan dan merebut Konstantinopel?

    Father Hunger

    Pendidikan anak mungkin bisa diwakilkan oleh guru atau siapapun, tapi untuk pengasuhan, orangtualah yang harus terjun langsung dalam hal ini, karena pengasuhan yang dilakukan langsung oleh orangtua akan membentuk karakter anak nantinya.

    Porsi terbesar pembentukkan karakter sebaiknya dilakukan oleh ayah. Penelitian di Amerika, dari seratus ribu anak, ada tujuh puluh ribu anak menyatakan lebih memilih ayah dalam membentuk karakter mereka.

    Indonesia didaulat sebagai Fatherless Country, negara tanpa keberadaan ayah secara psikologis. Hingga akibatnya anak-anak mengalami krisis Father Hunger, dimana ia sangat membutuhkan sosok ayah, namun tak dapat dimilikinya. Ayah Irwan menyebutnya dengan “Ayah ada – Ayah tiada”. Secara fisik dia ada, nampak, namun tidak ada dalam pengasuhan kepada anaknya. yang kemudian berdampak hilangnya rasa berani dan rasa percaya diri dalam dirinya. Berapa banyak ayah yang jarang menghabiskan waktunya untuk bermain dan bercengkrama dengan anaknya, hanya karena urusan pekerjaan, Berapa banyak ayah yang pulang kantor sangat lelah hingga tak mampu untuk sekedar tersenyum dan mendengar anaknya bercerita bagaimana ia membuat rumah-rumahan dari sedotan saat di sekolah?

    jika sosok ayah di mata anak tidak ada, maka terlalu panjang tahap pendewasaan anak tersebut. Padahal usia puncak tahap kematangan psikologis anak adalah 15 tahun bukan 30 tahun seperti yang terjadi di Indonesia.

    Ilmu itu dari Al-Qur’an

    Islam sangat konsen dalam masalah Fathering. Hampir 70% dari isi Al-Quran membahas tentang Fathering. Ayah Irwan bercerita tentang pengalamannya dalam konferensi Parenting di Singapore. Ada sebuah tokoh parenting disana yang beliau kagumi karena buku parenting yang diterbitkannya sangat laris dan bagus sekali isinya. Namanya, Clayton, seorang yahudi berkulit hitam. Ayah Irwan bertanya kepadanya kurang lebih, “Mengapa anda bisa menulis buku yang bagus sekali?”, lalu Clayton menjawab, “Seharusnya Pak Irwan yang menulis buku itu, karena seluruh buku Fathering yang saya tulis itu semuanya berdasarkan Al-Qur’an.” Miris sekali ketika harus seorang yahudi yang mengambil ibrah dari kitab suci yang dimiliki oleh kita—umat muslim. Bahkan dengan jelas, Allah telah menuliskan satu surah khusus untuk parenting keayahan dalam surah Luqman, yang menceritakan bagaimana Luqman mendidik anaknya untuk taat kepada Tuhannya.

    Terlalu Banyak Stimulan Perempuan

    Dikarenakan ayah hanya berkutat pada pencarian nafkah, maka Parent Leader pun diserahkan kepada sang istri. Bahkan di PAUD dan TK pun gurunya 96% adalah perempuan. Anak-anak juga membutuhkan sosok ayah yang ada secara fisik dan psikologis, yang mampu menceritakan bagaimana gagahnya Muhammad, bagaimana kuat dan tegasnya Umar, bagaimana militannya Al Fatih, dan tokoh islam lainnya. Karena ada karakter yang bahkan seorang ibu tidak bisa mencontohkannya kepada anak, dan itu adalah tugas ayah dalam mengasuh anaknya.

    Negara-negara besar dilihat dari bagaimana hebatnya TK dan SD nya.

    Di Finlandia, jika seorang istri melahirkan, maka dia diberikan jatah cuti selama dua tahun. Masyaallah DUA TAHUN, sangat berbanding terbalik dengan Indonesia yang hanya TIGA BULAN. Selama dua tahun pembiayaannya di tahun pertama di tanggung oleh pemerintah dan pada tahun kedua dibayarkan oleh tempat dia bekerja. Anda dapat membaca bagaimana perkembangan pendidikan anak di Finlandia, bagaimana negara tersebut mampu menciptakan sumber daya manusia yang sangat baik.

    Umat islam dalam pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, jika di kurs kan uang pada saat ini, gaji guru kanak-kanak pada masa itu sekitar 90 juta rupiah per bulannya. Mengapa begitu besar? Karena pada saat itu, mereka mengerti betul pentingnya masa kanak-kanak dalam pembentukan karakter dan penginputan informasi ke dalam pribadi anak. Ketika di perguruan tinggi, kemampuan untuk menyerap informasi tak lagi mudah seperti saat dia balita.

    Ayah Pendongeng

    Fathering mengajarkan seorang ayah agar selalu bercerita kepada anaknya. Cara penyampaian cerita nya pun tergantung dengan usia anak tersebut. Cara menyampaikan pesan kepada anak umur 5 tahun berbeda dengan anak umur 10 tahun, itulah mengapa perlu adanya pengasuhan yang tak terputus oleh ayah kepada anaknya.

    Pengasuhan dan Pendidikan

    Pengasuhan dan pendidikan adalah dua hal yang berbeda. Contohnya dalam konteks Al-Quran dan hubungannya kepada anak. Mengajarkan anak membaca Al-Qur’an, itu adalah pengajaran, sedangkan mengajari anak mencintai Al-Qur’an, itu adalah pengasuhan. Pengasuhan selayaknya tidak dilimpahkan kepada orang lain selain orang tua itu sendiri. Pengasuhan merupakan pengajaran yang harus selaras antara ucapan dan percontohan amalan tersebut. Pengasuhan adalah tentang amalan, bagaimana anak tersebut mencintai amal sholeh dan menggenggam prinsip tauhid yang dicontohkan oleh orang tuanya.

    5 Posisi Kontrol

    Sebagai orang tua, kita diberikan pilihan untuk menjadi siapa dalam mendidik anak-anak kita kelak. Bagaimana posisi kontrol menentukkan karakter anak.

    Penghukum
    Akan melahirkan anak-anak yang suka memberontak, menyalahkan orang lain, suka berbohong, sehingga akibatnya dia akan mengulangi dan mengulangi lagi kesalahannya.

    Pembuat Orang Merasa Bersalah
    Akan melahirkan anak-anak yang suka menyembunyikan keinginannya yang sesungguhnya, suka berbohong, suka menyangkal, sehingga akibatnya anak akan merasa rendah diri.

    Teman
    Akan melahirkan anak-anak yang ketergantungan, sehingga akibatnya anak akan lemah dan tidak mandiri.

    Pemantau
    Akan melahirkan anak-anak yang menyesuaikan diri jika diawasi, sehingga akibatnya akan menitikberatkan apa hadiah untuk dirinya

    Manager
    Akan melahirkan anak-anak yang menguatkan pribadi, sehingga akibatnya anak akan mengevaluasi diri dan memperbaiki diri.

    Apa yang Tersampaikan dari Sebuah Pesan?

    Kita harus berhati-hati dalam menyampaikan pesan kepada anak-anak kita. Prosentase pesan akan diterima dan dimengerti oleh anak jika berupa kata-kata hanya 10 %, sedangkan dengan nada suara 35% dan dengan bahasa tubuh 55 %. Alangkah baiknya kita bisa memadukan itu semua sehingga anak mendapatkan pesan yang utuh.

    Menjadi Ayah

    Menjadi ayah idaman tidak datang dengan sendirinya. Ia dibentuk dari suatu proses pendewasaan dan perbaikan karakter. Sebelum karakter Anda dicontoh oleh anak Anda nantinya, pastikan Anda sudah dikoreksi terlebih dahulu oleh pasangan Anda dan Anda sudah mulai memperbaiki karakter buruk itu. Menjadi ayah idola harus belajar terus menerus dalam memperbaiki kekurangan dan mengoptimalkan potensi anak di usia mudanya.

    Pengasuhan yang harus diberikan ayah kepada anaknya ada 3 poin :

    Pengarahan
    Pembiasaan
    Keteladanan
    Pada umur 0-10 tahun, anak sangat butuh banyak pengajaran dari orang tua. Pada tahun-tahun awal ini, anak sering berbuat kesalahan. Disinilah seorang ayah berperan dengan memberi contoh yang benar dari kesalahan yang dilakukan si kecil. Pengkoreksian yang rutin akan membuat sang anak mengerti betul bagaimana seharusnya bersikap. Karena pentingnya proses ini, maka selayaknya tidak boleh ada pendelegasian.

    Pada umur 10-15 tahun, ayah selayaknya lebih banyak berdialog dengan anaknya. Pada tahap ini, anak sudah memiliki pemikiran sendiri dan bagaimana baik dan buruknya perilaku. Anak sangat membutuhkan bimbingan di fase ini. Fungsi ayah adalah menjadi kontrol dan selalu memonitor sifat, sikap, dan perilaku anak.

    masih banyak materi-materi parenting Fathering yang bisa kalian dapatkan dari blog Ayah Irwan langsung, silahkan kunjungi blog beliau di :

    www.ayahuntuksemua.wordpress.com

    0 komentar:

    Posting Komentar

     
    Copyright (c) 2010 Blogger by Blogger
    Facebook : IKADI KOBAR, My Twitter