Diberdayakan oleh Blogger.

4 Pendekatan Agar Anak Memiliki Kesadaran Mengamalkan Agamanya

Posted on
  • Selasa, 27 Oktober 2015
  • by
  • ikadikobar
  • in
  • Label:




  • Written By:


    Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari


    Direktur Auladi Parenting School


    Pembicara Parenting Internasional di 4 negara


    dan Pembicara Nasional Parenting di 24 Propinsi, lebih dari 70 Kota di Indonesia


    www.auladi.net | inspirasipspa@yahoo.com


    Mengenalkan agama pada anak adaah kewajiban orangtua. Tetapi pada kenyataannya tidak mudah untuk membuat anak memiliki kesadaran anak mengamalkan agama sampai mereka dewasa meski sejak kecil mereka sudah dikenalkan dengan agamanya. Kesadaran anak ditentukan oleh pendekatan apa yang dipakai orangtua untuk mengenakan agama pada anak.


    PERTAMA, KETELADANAN.


    Ini adalah hal yang tak bisa diganggu gugat. Mana mungkin kita menyuruh anak sholat tanpa kita pun disiplin sholat.


    Tapi ini saja tidak cukup. Betapa banyak kita melihat kiri kanan kita, orangtuanya begitu rajin ke masjid, tapi anaknya yang remaja kok enggan ke masjid? Kurang teladan apa? Lah wong orangtuanya sudah mencontohkan!


    KEDUA, PEMBIASAAN.


    Kebiasaan beribadah sangat perlu, meski bukan satu-satunya. membiasakan beribadah pada anak adalah ikhtiar agar kita dapat menjadikan ibadah sebagai habbit untuk anak-anak kita. Jika sudah menjadi habbit, bukan tak mungkin anak-anak akan menjadi 'ringan' dalam ibadah setelah ia dewasa.



    Tetapi ini saja pun tidak cukup. Jika hanya dibiasakan, tak sedikit anak sudah dibiasakan ibadah sejak kecil tapi karena memamg pikirannya 'kosong' dengan nilai-nilai Allah, maka sebagian mereka pun akhirnya enggan beribadah setelah dewasa.


    KETIGA, INSTALLASI MOTIVASI


    Dalam mengenalkan agama, sebagian orangtua mengenalkan agama dimulai dari kompetensi-kompetensi beragama. Jika orangtua mengenalkan agama hanya dimulai dari kompetensi-kompetensi (keterampilan) beragama: terampil sholat, terampil membaca qur'an, terampil ini dan itu, belum tentu anak akan kemudian mengamalkan agama kelak setelah dewasa.


    Betapa banyak anak yang dari kecil bisa dan terampil sholat dari kecil, setelah dewasa enggan melaksanakan sholat. Berapa banyak dari kita yang terampil membaca Qur'an dari kecil, setelah dewasa memang masih membaca Qur'an hampir setiap hari, tapi berapa banyak dari kita yang termotivasi mengkaji isi Qur'an hampir setiap hari?


    Pendekatan  yang mungkin dapat ditambahkan dalam tarbiyah agama pada anak2 kita hari ini adalah bukan sekadar kompetensi beragama, tapi juga motivasi beragama. Sejak anak2 kita bisa membedakan tangan kanan dan mana tangan kiri sejak saat itulah orangtua dapat mengenalkan pada nilai baik dan buruk seperti yang direferensikan agama. Ingat, KESADARAN letaknya pada PIKIRAN, bukanlah pada tubuh. Maka membuat anak merasa sadar berarti menanamkan nilai pada pikiran anaknya terlebih dahulu tentang ibadah bukan sekadar nyuruh-nyuruh beribadah (mengendalikan tubuh).


    Bagamana merubah pikiran anak? Installkan nilai-nilai, informasi kebaikan itu pada anak tentang Allah, tentang Rasul, setiap hari dengan tepat pada anak baik melalui dongeng, cerita, kisah, ngobrol setiap hari minimum setengah jam sama anak, membaca buku bersama, mengajak diskusi anak,  atau apapun yang intinya kita menginstallkan nilai pada pikiran anak sehingga akhirnya menjadi program pikiran mereka dan sehingga mudah2an dapat menjadi motivasi buat hidup mereka.


    KEEMPAT, KEDEKATAN EMOSIONAL


    KEDEKATAN emosional orangtua anak akan menentukan penerimaan atau installasi nilai2 ini pada anak. orangtua yang cuek pada anak, orangtua yang mengabaikan anak, orangtua yang terlalu sibuk dengan urusannnya sendrii dan tidak punya waktu untuk anak dan hanya mengandalkan sekolah, ustadz atau tenaga 'outsourcing' lainnya dalam mengenalkan agama pada anak jangan berharap terlalu banyak anaknya dapat dekat dengan Tuhan-Nya jika orangtua sendiri tak dekat berusaha mendekati anak untuknya.



    KEDEKATAN emosional orangtua pada anak juga akan berguna saat orangtua berusaha menanamkan kebiasaan beribadah pada anak. Jangankan soal ibadah yang perlu kesadaran spritualitas, soal belajar (akademik saja) misalnya terbukti, anak-anak di Jepang rata-rata 30 menit didampingi orangtua di rumah saat belajar ternyata indeks pretasi akademik lebih baik dibandingkan anak-anak di amerika yang rata-rata hanya 15 menit didampingi orangtua di rumah saat belajar.


    Apalagi soal beragama, yang kemudian membutuhkan jangka waktu panjang untuk menanamkan nilai-nilai dengan  benar dan tepat mulai dari Aqidah, ibadah, jinayah, amaliah, dll.

    0 komentar:

    Posting Komentar

     
    Copyright (c) 2010 Blogger by Blogger
    Facebook : IKADI KOBAR, My Twitter