Diberdayakan oleh Blogger.

Keutamaan Adzan dan Iqomah

Posted on
  • Rabu, 02 Maret 2016
  • by
  • ikadikobar
  • in
  • Label: ,

  •  Al Faqih meriwayatkan dari Abu Qasim Abdirrahman Muhammad, Faris Mardawiyah, Muhammad Fadlil, Ali Yunus Abid, Abu 'Aun Bashry, Salmah Dlirar, Warga Syiria katanya Ada orang menghadap dan mohon kepada Nabi saw. katanya :"Terangkanlah amal yang dapat mengantarkan aku ke sorga! Jawab Beliau Saw. "Jadilah Muadzin penghimpun sholat berjama'ah, katanya : Jika tidak mampu? Jadilah Imam Sholat Berjama'ah dengan mereka. katanya Jika tidak bisa? Berdirilah di Shaf pertama setiap sholat". 

    bahkan sebab diturunkannya ayat di bawah ini, adalah dalam mengutamakan para muadzin (orang yang adzan) :

    وَمَنْ اَحْسَنَ قَوْلًامِمٌَنْ دَعَااِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ اِنٌَنِى مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ

    ARTINYA : "Siapakah orang yang lebih baik ucapannya melebihi orang yang mengajaka manusia menghadapa Allah (untuk melakukan sholat) dan beramal shalih (sholat sunnah di antara adzan dan iqomah) dan ia menyatakan bahwasanya aku adalah orang muslim".

    Selanjutnya Waki'meriwayatkan dari Abdullah Walid, Muhammad Nafi', dari 'Aisyah ra.Nabi saw. bersabda, Bagi Muadzin diampuni dosanya sejauh suaranya, dan pahala baginya sejumlah pahala orang yang sholat berjama'ah bersamanya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala dari mereka".

    Rasul saw. bersabda : "Orang sakit adalah tamu Allah sepanjang menderita sakit, setiap hari amalnya ditingkatkan sejajar dengan 70 orang mati syahid, setelah sembuh dibersihkan dosanya seperti baru dilahirkan oleh ibunya, dan jika mati dimasukkan surga tanpa hisab. sedan Muadzin seperti petugas keamanan pintu Allah, setiap kali adzan pahalanya sejumlah pahala para Nabi (1000 Nabi), Imam adalah mentriNya, setiap sholat disediakan 1000 pahala orang jujur (sidiq), dan Orang 'Alim  adalah wakilNya, setiap menyampaikan hadits (petuah) ditulis beribadah 1000 tahun, dan Santri / pendengar / pengikut pengajiannya yang belajar baik pria maupun wanita adalah pembantu Allah, tiada balasan bagi mereka kecuali sorga". (Hadits dari Sa'ad Abi Waqash, Khaulah Hakam Salmiyah) 

    Muadzin diibaratkan petugas keamanan pintu Allah, hanya sebagai tamsil / perumpamaan saja, karena ia memberi waktu demi menghadap Allah bagi para manusia. dan Imam MentriNya, karena ia diikuti jama'ah (orang-orang) ketika Sholat. (Demikian Al Faqih menjelaskan)  

    Sabda beliau saw. Muadzin dimapuni dosanya, sepanjang / sejauh suaranya, hal ini dibenarkan semua lapisan benda (baik yang hidup atau mati, yang basah atau yang kering).

    Seruan Sa'id Khudry ra. ketika berada di ladang atau tempat terbuka, maka kumandangkanlah adzan sekerasnya! karena Rasul saw. bersabda : "Semua mahluk mulai dari pohon, batu, pasir, manusia atau jin yang mendengar suara adzan (dari seorang muadzin) pasti bersedia menjadi saksi kelak di hari kiamat baginya di sisi Allah swt.

    Nabi Saw. bersabda : "Allah kelak membangkitkan Bilal (Muadzin Rasul saw.) di hari Kiamat, berkendaraan onta (kendaraan) sorga seraya mengumandangkan adzan di atas kendaraannya, dan ketika sampai pada : ASYYHHADU ALLAAILAAHHAILLALLAAHH, ASYHHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAHH, maka setiap orang saling memandang, sahutnya "Kami menyaksikan apa yang kau saksikan", hingga ke mahsyar, di mahsyar disambut dengan perhiasan sorga, dan bilal adalah orang pertama, lalu orang-orang shalih dari para muadzin". (Al Faqih: dari Muhammad Fadlil dengan sanadnya dari Mu'adz Jabal ra.)

    Di hari kiamat, Muadzin sangat panjang lehernya dari semua manusia, dan yang pertama ditahkim adalah para Nabi, para Syuhada, dana para Muadzin. Dari sekian banyaknya muadzin, yang pertama diseru adalah Muadzin Ka'bah (Masjid Haram), lalu Masjidil Aqsha, kemudian masjid - masjid lainnya". (H.R. Qatadah dari Abu Hurairah ra.)

    "Seandainya aku jadi Muadzin, pasti tidak perduli lainnya, sekalipun tidak ikut jihad(perang Sabil)". demikian kata Ibnu Mas'ud dan hal serupa juga dikatakan oleh Sa'ad Abi Waqash ra.

    Bahkan Umar bin Khattab ra. mengatakan "Seandainya aku jadi Muadzin, pasti tidak perduli lainnya, sekalipun tidak haji sunah, asalkan haji wajid sudah dilakukan".

    Kemuliaan dan keutamaan muadzin juga disampaikan oleH Ali Thalib ra. dengan katanya "Sedikitpun tiada kusesalkan, kecuali permohonanku kepada Nabi saw. seandainya petugas adzan (Muadzin) itu dipercayakan kepada Hasan - Husin (Putra Ali dan Cucu Beliau Saw.) 

    Daerah / kota yang banyak Muadzin (suara adzan)nya, pasti berkurang dinginnya (penderitaan atau bencananya). (Al Hadits).

    Nabi saw. bersabda : Ketika Muadzin mengumandangkan suara adzannya, maka syetan terbirit-birit (lari) sejauh Rauha-k (sekitar 30 mil dari Madinah)". (H.R. Jabir Abdullah).

    "Muadzin dipercaya memegang amanat, bagi umat(masyarakat muslim), tentang jadwal waktu shalat dan puasa, oleh karena itu harus benar- benar memperhatikan hal tersebut agar tidak sampai membingungkan masyarakat. Adzan Fajar (Shubuh) jangan dikumandangkan, kecuali jika Fajar telah terbit, agar tidak mengaburkan sahur dengan sholat subuh, dan Adzan Magrib jangan dikumandangkan, kecuali jika matahari sudah terbenam, agar tidak mengaburkan buka puasa umat. 

    Rasul saw. bersabda: " Para Muadzin yang melakukan tugasnya dengan ikhlas mengharap pahala Allah, kelak di hari Kiamat bangkit dari kuburnya mengumandangkan Adzannya, semua mahluk yang mendengar bersedia menjadi saksinya (baik) batu, pohon, pasir, manusia dan benda - benda basah atau kering. Dan Allah mengampuni dosanya sejauh suara kumandangnya, baginya diberi pahala orang - orang jama'ah shalat karena suara adzannya, dan dikabulkan permohonannya diantara adzan dan iqamat. (pahalanya) terkadang disegerakan di dunia, atau disimpan di akherat, atau diselamatkan dari bahaya, mereka adalah orang pertama yang menerima pakaian sorga sesudah nabi Ibrahim as., Nabi Muhammad saw dan para Nabi-Rasul (baru kemudian para Muadzin). Mereka disambut oleh malaikat (70.000 malaikat) dan diantar dengan kendaraan Yakut Merah dari Kubur sampai Mahsyar. (H.R. Jabir Abdullah). 

    Ada 3 orang yang diselamatkan dari siksa kubur, yaitu :
    1. Muadzin
    2. Para Syuhada
    3. Orang mati di malam / hari Jum'at.
    (Demikian Ibnu Abbas ra.)   

    disalin dari kitab tanbihul ghafilin karangan Al Faqih Abu Laits Samarqandi.


    0 komentar:

    Posting Komentar

     
    Copyright (c) 2010 Blogger by Blogger
    Facebook : IKADI KOBAR, My Twitter